Salafy Media

Radio Islam Indonesia

Who's Online


25 visitors online now
9 guests, 16 bots, 0 members
Map of Visitors

Malam-Malam Istimewa yang Dianggap Biasa

salafymediasalafymedia

Bila kita menengok sejenak pada aktifitas Nabi Muhammad ﷺ pada sepuluh malam terakhir dari bulan ramadhan; kita bakal melihat hal yang berbeda. Simak pernyataan ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berikut :

“Sesungguhnya bila telah masuk sepuluh hari terakhir dari bulan ramadhan; maka Rasulullah ﷺ mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” HR. Al Bukhari 2024 dan Muslim 1174

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mengistimewakan hari-hari terakhir bulan ramadhan dengan melakukan peningkatan grafik ibadah. Nampak dari pernyataan ‘Aisyah di atas,

Mengencangkan ikat pinggang yang bermakna Nabi ﷺ tidak mendatangi istri-istrinya dan semakin bersungguh-sungguh dalam ibadah,

Menghidupkan malam yang berarti Nabi tidak tidur semalaman,

Membangunkan keluarganya yang bermakna beliau ﷺ juga menumbuhkan nuansa kesemangatan ibadah di tengah keluarganya dengan memerintah mereka beribadah.

Bagaimana tidak, sedangkan pada salah satu malam tersebut terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan (lailatul qadar).

KEUTAMAAN APA YANG BAKAL DIDAPAT

Fadhilah lailatul qadar terdapat dalam firman Allah ta’ala :

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr : 3)

Maknanya, amal shalih yang dikerjakan bertepatan dengan lailatul qadar lebih utama dari pada ibadah yang dikerjakan selama seribu bulan tanpa ada malam lailatul qadar, demikian keterangan Imam Abu Ja’far Ath-Thabari rahimahullah dalam tafsir beliau.

Tentu, ini berarti beberapa hari ke depan merupakan kesempatan emas untuk meraih pahala hingga ribuan kali lipat dari pada biasanya. Lantas, apa ada yang percaya dengan firman Allah ini kemudian dia enggan meraih keutamaannya?!

DIISI DENGAN APA SEPULUH MALAM TERAKHIR

Yang bisa kita lakukan untuk mencontoh Rasulullah ﷺ dalam perkara ini dapat terwujudkan dengan :

– Memakmurkan masjid dengan i’tikaf.

– Menghidupkan kegiatan ibadah malam hari di rumah dengan beragam bentuk amal shalih; berdoa, istighfar, shalat, membaca Al Qur’an, dll bagi yang berhalangan untuk beri’tikaf.

– Membangunkan pasangan, anak yang telah mumayyiz, adik, dan yang anggota keluarga lainnya untuk turut membuat hidup sepuluh malam terakhir bulan ramadhan dengan ibadah. Meski hanya sebentar, dalam rangka menumbuhkan pada hati mereka akan istimewanya penghujung akhir dari bulan suci ramadhan ini.

–> Bersambung dengan bahasan ringkas seputar i’tikaf ..

— dituntaskan di Masjid Abu Hurairah, @Kota Raja

— Hari Ahadi, dua jam Jelang Sahur 21 Ramadhan 1439 / 06 Juni 2018

Powered by WPeMatico