Salafy Media

Radio Islam Indonesia

Who's Online


17 visitors online now
1 guests, 16 bots, 0 members
Map of Visitors

KEWAJIBAN TA’AT KEPADA ULAMA DAN PENGUASA

salafymediasalafymedia

✍ Group WhatsApp 💬 :
🌴 PENCARI AL-HAQ 🌴
~~•¤•~~

📝 KEWAJIBAN TA’AT KEPADA ULAMA DAN PENGUASA
💺 Asy-Syaikh Doktor Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan حفظه الله

🚩Anggota Badan Persatuan Ulama Besar Saudi Arabia dan Anggota Komisi Tetap untuk Penelitian Ilmiah dan Fatwa 💺📜
📖 “Taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa : 59)

Dan Ulil Amri (yang wajib untuk ditaati-pent) mereka adalah para ulama dan para pemimpin atau penguasa.

Ulama adalah waliyul amr dari sisi mereka sebagai pengemban syari’ah/agama dan menyampaikannya kepada umat atau manusia. Mereka mewariskan ilmu dari para nabi. Oleh karenanya Nabi ﷺ bersabda tentang mereka (artinya):

“Ulama adalah pewaris para Nabi.”

Dan lain sebagainya dari keutamaan ulama, dan juga kelebihannya dari ahli ibadah, serta hal atau kerusakan yang timbul akibat tidak adanya ulama, sebagaimana yang terjadi pada kaum Nuh عليه وسلم. Awal mula kesyirikan yang timbul pada kaum Nuh عليه وسلم itu disebabkan karena sepeninggal atau ketiadaan ulama. Wal iyya dzubillah.

Sedangkan Penguasa adalah waliyul amr dari sisi politik, penerapan pemerintahan, & penerapan syari’at Allah جل وعلا, karena ditangan mereka terdapat kekuasaan, yang Allah serahkan atau amanahkan untuk mereka.

Maka wajib ta’at kepada mereka (para ulama dan penguasa) dan tidak merendahkan kedudukan mereka.
Dan ketaatan terhadap mereka merupakan kemaslahatan yang amat besar yang menghindarkan atau menyelamatkan dari perselisihan dan fitnah, sebagaimana yang Allah terangkan dalam firman-Nya (artinya) :

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lantas menyiarkannya. Sekiranya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Seandainya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antara kamu).” (QS. An-Nisa : 83)

Oleh karena itu, wajib taat kepada ulama, tidak boleh menyelisihi mereka karena mereka adalah pewaris para nabi, selama mereka berada di atas jalan yang lurus dan ilmu yang shahih. Dan tidak boleh merendahkan kedudukan mereka.

Begitupula wajib memuliakan penguasa kaum muslimin dan wajib taat kepada mereka pada perkara yang ma’ruf, sebagaimana firman-Nya (artinya):

“Dan ulil amri di antara kamu.”

“Di antara kamu” ya’ni dari kalangan kaum muslimin, adapun apabila kafir maka tidak wajib untuk ditaati.

Kemudian perlu diketahui bahwa ketaatan kepada ulama dan penguasa itu dengan memperhatikan atau terikat dengan kitab dan sunnah. Selama tidak menyelisihi kitab dan sunnah maka wajib untuk ta’at kepada mereka. Adapun jika mereka memerintahkan kepada perkara maksiat maka tidak wajib taat kepada mereka. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ (artinya):

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.”

Dan juga :

“Sesungguhnya ketaatan itu pada perkara yang ma’ruf.”

Akan tetapi, bukan berarti apabila penguasa memerintahkan kepada perkara maksiat, kemudian kita melepas ketaatan dan memberontak kepada mereka dengan alasan merubah kemungkaran, atau alasan dzolim, tidak!
Kita tidak taati perkara kemaksiatan tersebut, akan tetapi kita taat pada perkara yang lain selain kemaksiatan tersebut.

Dan begitupula ulama, hal tersebut tidak melepas ketaatan kita terhadap mereka dan tidak merendahkan kedudukan mereka. Karena mereka bukanlah orang yang maksum, terkadang mereka salah. Maka kita ambil perkataan mereka yang benar yang sesuai dalil dan kita tinggalkan perkataan mereka yang salah yang menyelisihi dalil.
Bukan seperti ucapan sebagian orang yang mengatakan bahwa selama masalah tersebut diperselisihkan maka kita ambil ucapan mana saja, karena semuanya ucapan ulama. Tidak! ini tidak benar!
Semuanya dikembalikan kepada kitab dan sunnah.

Dan bukan merupakan syarat seorang alim itu harus terlindung dari kesalahan, dan tidak ditaati kecuali jika bebas dari kesalahan, bukan merupakan syarat. Begitupula penguasa.
Hanya saja jika pada mereka ada kesalahan maka menasihati mereka dengan cara yang layak dan sesuai apa yang dituntunkan oleh syari’at, sesuai kedudukan mereka. Karena agama ini nasihat, sebagaimana sabda Rosulullah ﷺ (artinya):

“Agama ini nasihat. Kami bertanya, “Untuk siapa Ya Rosulullah?”, beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin-pemimpin kaum muslimin, dan keumuman mereka.”
📝 Dipetik dan disarikan dari Muhadhoroh Syaikh Shalih Al-Fauzan حفظه الله yang berjudul “Wajibuna Tijah Wulatul Umur wal Ulama”
=====================
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
📊 Channel Telegram 📮:
http://telegram.me/pencari

Powered by WPeMatico