Salafy Media

Radio Islam Indonesia

Who's Online


14 visitors online now
11 guests, 3 bots, 0 members
Map of Visitors

Hukum Wanita Memandang pada Lelaki

salafymediasalafymedia

Sejatinya, pembahasan ini sangat penting bagi tiap orang yang mementingkan keselamatan dirinya dalam kehidupan akhirat. Baik dia laki-laki sebagai seorang suami, ayah, atau kakak. Maupun bagi kaum wanita secara khusus.

Bagaimana tidak, sebab banyak kebinasaan yang terjadi lantaran menganggap kecil pintu ini. Dari yang sebatas pandangan; jatuh pada hal yang membinasakan. Wal ‘iyaadzu billaah.

فإن الحوادث مبدأها من النظر كما أن معظم النار مبدأها من مستصغر الشرر

“Sesungguhnya beragam kemaksiatan itu berawal dari pandangan. Sebagaimana halnya api besar yang hanya berasal dari sebuah percikan.” (Ibnul Qayyim dalam Jaami’ Al Fiqh, VI/435)

Hukum Wanita Memandang Lelaki Ajnabi

Wanita yang memandang lelaki ajnabi (bukan mahramnya) tidak keluar dari dua keadaan :

1. Memandang dengan disertai rasa senang dan bernikmat-nikmat. Pada kondisi ini, semua ulama sepakat bahwa ini perbuatan yang haram. Dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah :

وأما نظر المرأة إلى وجه الرجل الأجنبي ، فإن كان بشهوة  فحرام بالاتفاق

“Adapun hukum wanita memandang pada wajah lelaki ajnabi dengan disertai syahwat; maka telah disepakati akan haramnya.” (Al Minhaj, VI/184)

Ijma’ ini dilandasi dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menundukkan pandangannya’.” (QS. An-Nuur : 31)

2. Memandang dengan tanpa menikmati wajah si lelaki. Dalam kasus ini, ada dua pendapat di kalangan ulama :

Mayoritas sahabat dan tabi’in serta pendapat mu’tamad dalam madzhab Syafi’i dan Hanbali menyatakan bahwa hukumnya tetap haram.

Berdasarkan pada firman Allah dalam surah An-Nuur (31) di atas, di mana Allah memerintahkan untuk menundukkan pandangan kepada kaum wanita persis dengan perintah-Nya pada kaum pria.

Sebagaimana haramnya pandangan seorang lelaki pada seorang wanita baik dengan syahwat maupun tidak; maka demikian pula wanita. Sebab sisi ketertarikan kaum lelaki pada wanita; juga didapati pada kaum hawa yang memiliki ketertarikan pada lelaki. (Baca : Tafsir Al Qurthubi, XV/210)

Sejumlah ulama menyatakan bahwa hukumnya boleh, ini jadi pendapat dalam madzhab Hanafi dan Maliki, dipilih oleh Asy-Syaikh Ibnu Baaz dan Al ‘Allaamah Al ‘Utsaimiin dari kalangan ulama kontemporer.

Pendapat yang membolehkan ini berdalil dengan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, dimana beliau diizinkan oleh Rasulullah ﷺ untuk melihat para lelaki kaum Habasyah yang bermain tombak di masjid saat hari raya (muttafaqun ‘alaihi).

Kalaulah para wanita tidak diperbolehkan melihat lelaki meski dengan tanpa syahwat; tentulah Rasulullah ﷺ melarang Aisyah dari melihat ke arah mereka. Demikian pernyataan dari para ulama yang membolehkan.

Namun, bila kita melihat secara seksama hadits Aisyah ini; nampaknya mengambil pendapat mayoritas ulama lebih selamat. Itu dikarenakan :

– Aisyah melihat pada permainannya, meskipun otomatis wajah pemainnya juga bakal terlihat; namun sifatnya bukan hal sebagai hal utama yang dipandang oleh beliau.

– Dan Aisyah tidak melihat kepada satu orang tertentu; namun pada gerakan semua pemainnya. Sehingga berbeda dengan kasus seorang wanita yang melihat pada wajah satu lelaki secara langsung. (Baca : At-Tafsiir wa Al Bayaan, IV/1842)

Dua alasan ini nampak jelas pada pernyataan beliau radhiyallahu ‘anha :

لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا عَلَى بَابِ حُجْرَتِي، وَالْحَبَشَةُ يَلْعَبُونَ فِي الْمَسْجِدِ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتُرُنِي بِرِدَائِهِ، أَنْظُرُ إِلَى لَعِبِهِمْ.

“Aku mengingat di saat Rasulullah ﷺ pada suatu hari berada di pintu kamar kami dalam kondisi kaum Habasyah bermain di masjid. Dan Nabi ﷺ menutupiku dengan rida’-nya; sedang aku menyaksikan permainan mereka.” HR. Al Bukhari (454) dan Muslim (892)

Pilihlah yang Pasti Selamat

Apabila kita melihat dari uraian di atas, jelas bahwa tetap menundukkan pandangan bagi wanita dari melihat kaum Adam ajnabi ialah hal yang paling aman dan selamat. Selama tidak ada hal darurat yang mengharuskan.

Dikatakan dalam Insyirooh Ash-Shuduur fii Tadabburi Suurotin Nuur (hlm. 159) :

لا يجوز للنساء المؤمنات النظر إلى الرجال الأجانب، وتكرار النظر إليهم، وتحديد البصر فيهم، فإن ذلك من أعظم أسباب افتتانهن بالرجال

“Tidak boleh bagi wanita-wanita yang beriman memandang pada para lelaki ajnabi, mengulang-ulanginya, dan menajamkan pandangan ke arahnya; karena hal itu merupakan sebab terbesar mereka terfitnah dengan kaum lelaki.”

Karena itu pula, Asy-Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah menasihatkan agar para wanita menempuh jalan selamat ini; bahkan pun dalam pembahasan menyaksikan ceramah di televisi oleh para alim, da’i, atau ustadz agar mereka terselamatkan dari fitnah.

Beliau menyatakan saat ditanya tentang hukum wanita yang menyaksikan para da’i di televisi :

والله هذه بلية ، مسألة الشاشات هذه وظهور الرجال أمام النساء والنساء أمام الرجال هذه مصيبة ، فبإمكانها أنها تستمع للمواعظ وإلى الدروس من الراديو ما تشوف في صورة

“Demi Allah, ini merupakan bencana! Yakni terkait dengan media masa kini. Dengan tampilnya pria di hadapan wanita dan wanita di hadapan pria. Ini merupakan musibah. Seorang wanita masih bisa mendengarkan nasihat dan pelajaran agama melalui radio tanpa melihat gambar (pria).” (Transkrip Dars -07- Tath-hiir Al I’tiqad)

Mari, Buktikan Keimanan Kita!

Syaikh Al ‘Utsaimiin rahimahullah, ketika sampai pada ayat (30 – 31) dari Surah An-Nuur, beliau menyatakan saat menjelaskan firman Allah :

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menundukkan pandangannya’.” (QS. An-Nuur : 31)

Dalam ayat ini Allah tidak menyatakan, ‘Katakanlah pada semua wanita..’. Karena hanya dengan iman lah seseorang mau menerima perintah ini. Karakter seorang mu’min, dia akan senantiasa menjalankan perintah Allah pada dirinya.” (Tafsir Surah An-Nuur, hlm. 165)

Suami yang Cinta Istri

Seorang suami yang benar-benar mencintai istrinya tentu akan meluruskan sang istri saat dia terjatuh dalam kesalahan. Dia akan cemburu saat melihat istrinya menyaksikan lelaki-lelaki ajnabi dengan begitu asyiknya, baik secara langsung atau melalui sarana media.

Sebab memang, demikianlah yang telah Allah perintahkan pada para suami. Untuk menjaga keluarganya dari ancaman siksa neraka. Lebih dari itu, dia juga tidak ingin tergolong pada suami yang mendapatkan predikat dayyuts.

ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ : مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ، وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخُبْثَ

“Tiga golongan yang Allah haramkan memasuki surga; pecandu khamr, anak yang durhaka, dan dayyuts -yaitu kepala keluarga yang mendiamkan kemungkaran di tengah keluarganya.” HR. Ahmad (5372) dinyatakan Shahih li Ghairih oleh Muhaqqiq Musnad.

Semoga bisa memberi manfaat.

— Jalur Masjid Agung, @Kota Raja

— Hari Ahadi, Ba’da ‘ashr 09 Syawal 1439 / 23 Juni 2018

Powered by WPeMatico