Salafy Media

Radio Islam Indonesia

Who's Online


16 visitors online now
5 guests, 11 bots, 0 members
Map of Visitors

Bekal Ilmu Zakat Fithri

salafymediasalafymedia

Menghadapi ibadah tahunan zakat fithri sudah jadi rutinitas semua kita. Untuk menyegarkan kembali ma’lumat kita seputar ibadah agung ini; simak sejumlah poin berikut ini :

#1 – Sebab Penamaan

Dalam hadits Rasulullah ﷺ serta di kalangan para pakar fikih, zakat ini dikenal dengan istilah zakat fithri. Dan kita akan menggunakan istilah zakat fithri dalam bahasan ini, meski kita tidak mempermasalahkan bila seseorang ingin menyebutnya zakat fitrah.

Disebut fithri (berbuka), karena waktu wajibnya zakat ini di saat umat Islam meninggalkan bulan suci ramadhan. Disyari’atkan pada bulan Sya’ban di tahun ke-dua hijriyah. (baca : Al Fiqh Al Islami, III/53 dan Asy Syarh Al Mumti’ VI/149)

#2 – Hukumnya

Zakat fithri hukumnya wajib. Berdasarkan pada :

– Hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau menyatakan :

 فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ، أَوْ حُرٍّ ؛ صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrhi dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum terhadap budak dan orang merdeka, lelaki dan wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kalangan kaum muslimin.” HR. Al Bukhari, 1504 & Muslim, 984

– dan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, kata beliau :

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fithri sebagai pembersih orang yang berpuasa dari hal sia-sia dan dosa, serta dalam rangka memberi makan orang miskin.” HR. Abu Dawud, 1609 & Ibnu Majah, 1827

#3 – Hikmah dan Peruntukannya

Dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma di atas kita mendapati dua hikmah yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ dari kewajiban zakat fithri, yaitu :

– Dalam rangka membersihkan dari hal-hal yang mengotori puasa seseorang. Karenanya, dikatakan oleh Waki’ bin Jarrah (guru Imam Syafi’i) rahimahullah :

زكاة الفطر لشهر رمضان كسجدة السهو للصلاة، تجبر نقصان الصوم كما يجبر السجود نقصان الصلاة

“Zakat fithri seusai ramadhan laksana sujud sahwi setelah shalat. Dia menutupi kekurangan yang terdapat pada puasa sebagaimana sujud sahwi menutup kekurangan dalam shalat.” (Al Fiqh Al Islami, III/53)

– Memberi makan orang miskin. Oleh karenanya, hendaknya fakir miskin diprioritaskan dalam pemberian zakat fithri ini. Dikatakan oleh Ibnu Asy Syaukani rahimahumallah :

“Penerima zakat fitrhi seperti penerima zakat pada umumnya (delapan golongan, pent); sebab zakat fitrhi juga termasuk zakat. Namun diprioritaskan kaum fakir adanya perintah untuk mencukupi mereka pada idul fithri.” (As Sumuth Adz Dzahabiyah, 114 melalui Tarjiih fi Masaa’il as Shaum wa az Zakah)

Bahkan, sejumlah ulama berpendapat bahwa zakat fithri khusus tertuju pada fakir miskin. Bukan tertuju untuk enam golongan ahli zakat lainnya (yaitu ‘amil, mu’allaf, perbudakan, yang punya utang, fi sabilillah, dan musafir yang kehabisan bekal).

Alasan bahwa dia khusus untuk fakir miskin ialah karena Nabi Muhammad ﷺ menyatakan tentang zakat ini :

وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Dalam rangka memberi makan orang miskin.” HR. Abu Dawud, 1609 & Ibnu Majah, 1827

Karenanya, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah mengatakan :

“Petunjuk Rasulullah ﷺ dalam zakat fithri ialah mengkhususkan peruntukannya kepada orang-orang miskin. Tidak beliau bagi-bagikan pada delapan golongan secara keseluruhan, dan Nabi memang tidak pernah memerintahkan untuk membaginya pada golongan selain fakir miskin.

Demikian pula, para sahabat beliau tidak pernah menyerahkan zakat fithri pada pihak selain fakir miskin, tidak pernah pula dilakukan oleh ulama setelah mereka.” (Zaadul Ma’ad, II/22)

Sengaja kami tambahkan keterangan ini sebagai sisi penekanan agar sungguh-sungguh dalam mengutamakan orang miskin dalam zakat fitrhi. wabillaahi at-taufiiq.

—> bersambung ..

— Diselesaikan pas Singgah di KK @Kota Raja

— Hari Ahadi, ba’da zawal 26 Ramadhan 1439 / 11 Juni 2018

Powered by WPeMatico