Salafy Media

Radio Islam Indonesia

Who's Online


10 visitors online now
8 guests, 2 bots, 0 members
Map of Visitors

Bekal Ilmu Zakat Fithri (Bag. II)

salafymediasalafymedia

#4 – Siapa yang Wajib

Zakat fithri wajib ditunaikan oleh tiap muslim yang memiliki kelebihan dari keperluan pokok di malam dan hari rayanya; kecukupan untuk diri dan keluarganya.

Keharusan mengeluarkan zakat ini tertuju pada setiap muslim dan yang dia tanggung nafkahnya, seperti istri dan anak-anak. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan :

 أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم بصدقة الفطر عن الصغير والكبير , والحر والعبد ممن تمونون

“Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk membayar zakat fithri bagi anak kecil dan orang tua, yang merdeka dan budak, dan orang-orang yang kalian nafkahi.” HR. Ad Daruquthni, 220 (baca tahsin hadits ini : Al Irwa’, 835)

# Apakah orang yang tidak waras (gila) juga harus dikeluarkan zakat fithri-nya?

Melihat pada hadits Ibnu Umar tentang pihak-pihak yang wajib membayar zakat fithri di atas, saat Rasulullah ﷺ menyatakan :

” …lelaki dan wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kalangan kaum muslimin.” HR. Al Bukhari (1504) & Muslim (984)

Maka orang gila juga dikenai kewajiban untuk dibayarkan zakat fithri-nya. Saat menjelaskan hadits ini, Asy-Syaikh Al ‘Utsaimiin rahimahullah berkata :

“Orang waras dan yang gila wajib menunaikan zakat fitrhi, sebagaimana tercakup dalam sabda Rasulullah ﷺ ‘lelaki dan wanita’ yang melingkupi semua orang Islam.” (Fath Dzil Jalaali wal Ikraam, III/88)

Al ‘Allamah Ibnu Hazm Al Andalusi rahimahullah dalam Al Muhalla (IV/263) pun telah menyatakan wajibnya zakat fithri atas orang gila.

# Bukankah orang yang tidak waras tidak terkena beban syari’at?

Benar. Tapi zakat bukan kewajiban yang terarah pada anggota badan, namun pada harta. Sehingga yang menjadi tolak ukur ialah keberadaan harta, bukan apakah sudah baligh atau waras tidaknya.

Pendapat wajib zakat atas anak kecil dan orang gila ini dipilih oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad rahimahumullah.

#5 – Jenis dan Ukurannya

Zakat fithri ialah ibadah yang telah diatur segala ketentuannya, sehingga seseorang tidak boleh keluar dari ketetapan yang telah ada. Baik terkait jenis atau ukurannya.

Landasan dasar pembahasan ini salah satunya ialah hadits Abu Sa’iid Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan :

كُنَّا نُعْطِيْهَا فِي زَمَنِ النَّبِي ﷺ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ

“Kami mengeluarkan zakat fithri pada zaman Nabi ﷺ satu sha’ berupa makanan (pokok).” HR. Al Bukhari (1508) & Muslim (985)

Nampak jelas dari sini tentang ukuran zakat fithri pada zaman Nabi Muhammad ﷺ dan jenisnya yang berasal dari makanan pokok. Dari sanalah, Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan :

ويؤدي الرجل من أي قوت كان الأغلب عليه

“Seseorang mengeluarkan zakat fithri dengan menggunakan makanan yang jadi konsumsi utama masyarakatnya.” (Al Umm, III/174)

Oleh sebab itu, semenjak dahulu jenis pembayaran zakat fithri kita ialah menggunakan beras. Lantaran beras merupakan makanan pokok masyarakat kita.

# Bayar zakat fithri pakai uang?

Mayoritas ulama berpendapat, termasuk madzhab Syafi’iyah, bahwa tidak sah zakat fithri menggunakan uang. Sebab tertera secara jelas dalam hadits Ibnu Umar dan Abu Sa’iid Al Khudri radhiyallahu ‘anhum bahwa yang jadi objek pembayaran zakat fithri ialah makanan, bukan uang!

Sedangkan ibadah sifatnya harus mengikuti ketetapan yang telah ada dalam syari’at. Rasulullah ﷺ menyatakan :

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang melakukan satu amal yang tidak ada tuntunan kami padanya; maka itu tertolak.” HR. Al Bukhari (2697) dan Muslim (1718)

Dan zakat fithri menggunakan uang tidak memiliki tuntunan dari Rasulullah ﷺ. Dan Imam Nawawi rahimahullah berkata :

لا تجزئ القيمة في الفطرة عندنا، وبه قال مالك وأحمد وابن المنذر

“Dalam madzhab kami, tidak sah pembayaran zakat fithri menggunakan uang! Ini juga menjadi pendapat madzhab Maliki dan Hambali, serta Ibnul Mundzir.” (Al Majmu’, VI/112)

bersambung ..

— Jalur Masjid Agung, @Kota Raja

— Hari Ahadi, dhuha 27 Ramadhan 1439 / 12 Juni 2018

Powered by WPeMatico