Salafy Media

Radio Islam Indonesia

Who's Online


21 visitors online now
5 guests, 16 bots, 0 members
Map of Visitors

BEBERAPA HAL YANG DAPAT MEWUJUDKAN KEAMANAN

salafymediasalafymedia

✍ Group WhatsApp :
PENCARI AL-HAQ
~~•¤•~~

BEBERAPA HAL YANG DAPAT MEWUJUDKAN KEAMANAN
Asy-Syaikh Doktor Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan حفظه الله

Anggota Badan Persatuan Ulama Besar Saudi Arabia dan Anggota Komisi Tetap untuk Penelitian Ilmiah dan Fatwa
“Rasa aman itu terwujud dengan beberapa perkara.
Perkara yang pertama adalah dengan mentauhidkan Allah تعالى , beribadah kepada-Nya, ta’at kepada-Nya, dan beramal shalih.

Allah جل وعلا berfirman (artinya) :

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

(QS. An-Nur : 55)

Demikian pula yang mewujudkan rasa aman adalah bersatunya kalimat kaum muslimin dan taat kepada penguasa kaum muslimin. Bersabda Rasulullah ﷺ ketika para sahabat meminta beliau untuk memberikan nasihat dan wasiat (artinya) :

“Aku nasihatkan kalian untuk bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat meskipun yang memerintahkanmu adalah seorang budak. Barangsiapa diantara kalian yang hidup setelahku maka akan melihat perselisihan yang amat banyak. Maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Al-Khulafa Ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham kalian! Dan hati-hatilah kalian dari perkara yang baru.”

Tidaklah tegak kekuasaan dan jama’ah kecuali dengan ketaatan kepada penguasa. Adapun dengan memberontak dan melepas ketaatan dan membuat kerusakan, maka hal ini merupakan kebinasaan yang besar, walaupun dihiasi dengan alasan bahwa hal tersebut untuk mencapai kebebasan atau untuk mencapai kemaslahatan dan kedamaian, maka semua ini adalah kedustaan. Justru kemaslahatan dan keamanan itu dengan bersatunya kalimat dan dengan ketaatan terhadap penguasa, meskipun mereka memiliki kekurangan. Adapun jika kekuasaan itu dilepas dan kekacauan merajalela, lalu siapa yang akan mengendalikan urusan setelah itu? Siapa yang akan mengatur urusan jika tidak ada penguasa/pemimpin?
Oleh karenanya, ketika Rosulullah ﷺ wafat, para sahabat berkumpul untuk memilih siapa yang menjadi pengganti beliau ﷺ untuk memimpin kaum muslimin, hingga terpilihlah Abu Bakar As-Sidiq رضي الله عنه, kemudian setelah itu mengarahkan mereka mengurusi jenazah Rosulullah ﷺ. Mereka mendahulukan ini dikarenakan pengetahuan mereka bahwa waktu tidak terlewat tanpa adanya penguasa/pemimpin agar tidak tersia-siakan atau terlalaikan urusan.
Adapun dengan memberontak atau melepas ketaatan ketika mereka melakukan kesalahan atau memiliki kekurangan maka hal ini akan menimbulkan kekacauan dan bahaya yang lebih besar daripada seandainya jika bersabar dengan mereka. Akan merajalela kekacauan dan tersebar ketakutan dan kegelisahan.
Oleh karenanya Nabi Ibrahim Al-Khalil عليه السلام berdo’a untuk penduduk Mekkah (artinya) :

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.”

(QS. Al-Baqarah : 126)

Dalam do’a tersebut didahulukan meminta keamanan daripada meminta rizki dikarenakan rasa aman itu sesuatu yang amat dibutuhkan. Tidak dirasakan nikmatnya rizki dengan adanya ketakutan. Bahkan rizki itu tidak dapat diperoleh dengan adanya ketakutan.

☝⚠ Hal inilah yang diinginkan oleh musuh-musuh Islam yang berusaha mengguncang persatuan kaum muslimin. Mereka ingin memecah-belah persatuan kaum muslimin dengan pemerintah mereka.
Oleh karenanya, merupakan suatu keharusan adanya kekuasaan/penguasa dan persatuan kalimat kaum muslimin, meskipun penguasa tersebut memiliki kekurangan atau kelalaian, bersabar atas hal tersebut, karena dengan bersabar ini sebagai pencegahan terhadap suatu hal atau kerusakan yang lebih besar lagi.”
✍ Dipetik dan disarikan dari khutbah jum’at Syaikh Shalih Al-Fauzan حفظه الله dengan tema “Ni’matul Amn wal Iman”
=====================

Channel Telegram :
http://telegram.me/pencari

Powered by WPeMatico