Salafy Media

Radio Islam Indonesia

Who's Online


17 visitors online now
14 guests, 3 bots, 0 members
Map of Visitors

Alasan Klasik

salafymediasalafymedia

Mengikuti adat istiadat sebenarnya sah-sah saja selama tidak bertentangan dengan syari’at. Tapi bila bertentangan, seyogyanya kita lebih mengedepankan aturan agama dari pada adat.

Jangan sampai saat ada seseorang yang menasihati kita dengan ayat ataupun hadits lantas kemudian kita beralasan; ‘Saya mau ikut orang dulu saja! Nggak mau ini itu’. Tentu ini tidak tepat.

Dalam kitab suci kita, Al Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala banyak mengisahkan pada kita tentang alasan-alasan orang terdahulu ketika diajak untuk menerapkan Al Qur’an. Salah satu yang paling sering mereka jadikan alasan ialah karena ingin mengikuti ajaran atau peninggalan nenek moyang.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah!” Mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (QS. Al Baqarah : 170)

Dan mereka telah merasa cukup dengan hal itu.

 وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ إِلَى مَا أَنزَلَ اللّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُواْ حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan tetap mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. Al Maa’idah : 104)

Memang, kebiasaan menolak kebenaran dengan alasan ‘Ini tradisi’ atau ‘Ini kan adat’ bukan hanya terjadi di satu generasi. Namun sudah menjadi ‘alasan klasik’ yang turun-temurun.

وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِم مُّقْتَدُونَ

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka“. (QS. Az-Zukhruf : 23)

Biarlah yang sudah berlalu. Namun kita berharap agar jangan sampai pernyataan-pernyataan di atas kemudian muncul di tengah umat Islam.

Sebab kapan ‘alasan klasik‘ di atas muncul; niscaya perpecahan dan perselisihan akan terus ada di tubuh umat. Berkata Imam Asy-Syathibi rahimahullah :

من أسباب الخلاف ، التصميم على اتباع العوائد وإن فسدت، أو كانت مخالفة للحق، وهو اتباع ما كان عليه الآباء والأشياخ وأشباه ذلك، وهو التقليد المذموم، فإن الله ذم ذلك في كتابه .. وقوله: {هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ أَوْ يَنفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ} فنبههم على وجه الدليل الواضح، فاستمسكوا بمجرد تقليد الآباء . فقالوا: {بَلْ وَجَدْنَا آبَاءنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ}

“Di antara sebab perselisihan ialah sikap bersikeras mengikuti ‘awa-id yang rusak dan menyelisihi kebenaran. Yang dimaksud ‘awa-id ialah mengikuti peninggalan nenek moyang, para guru, dan yang semisal mereka. Dan ini merupakan bentuk taqlid yang tercela. Sebagaimana Allah telah mencelanya dalam Al Qur’an .. :

هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ أَوْ يَنفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّون

Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?” (QS. Asy-Syu’aro : 72-73)

Dikisahkan pada dua ayat ini bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam mengingatkan pada kaumnya dengan hujjah yang sangat terang (akan batilnya penyembahan pada selain Allah). Namun nyatanya, mereka tetap berpegang dengan sikap taqlid.

بَلْ وَجَدْنَا آبَاءنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُون

Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) tapi karena kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian“. (QS. Asy-Syu’aro : 74) [ Al I’tisham, III/141 ]

— Jalur Masjid Agung, @Kota Raja

— Hari Ahadi, Jelang Subuh 27 Syawal 1439 / 11 Juli 2018

Powered by WPeMatico