Sunnah Zikir Ba’da Shalat - Salafy Media
Salafy Media

Radio Islam Indonesia

Who's Online


16 visitors online now
6 guests, 10 bots, 0 members
Map of Visitors

Sunnah Zikir Ba’da Shalat

salafymediasalafymedia

Sebenarnya ada sebuah sunnah setelah shalat shubuh dan maghrib yang sekarang mulai jarang kita saksikan di masa ini. Sunnah tersebut ringan namun pahalanya berat. Berikut kami bawakan haditsnya dan sejumlah pembahasan terkait. Semoga memberi manfaat.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ قَـالـَ

 مَنْ قَـالَـ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ وَيَثْنِيَ رِجْلَيْهِ مِنْ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ وَالصُّبْحِ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ

 كُتِبَ لَهُ بِكُلِّ وَاحِدَةٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ
وَمُحِيَتْ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ
وَرُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ
وَكَانَت حِرْزًا مِنْ كُلِّ مَكْرُوهٍ
وَحِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم
وَلم يَحِلَّ لذنبٍ أَنْ يُدْرِكَهُ إِلَّا الشِّرْكُ
وَكَانَ مِنْ أَفْضَلِ النَّاسِ عَمَلًا
إِلَّا رَجُلًا يَفْضُلُهُ يَقُولُ أَفْضَلَ مِمَّا قَـالـَ

Dari Abdurrahman bin Ghanm, dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau bersabda,

“Barang siapa membaca –sebelum berpaling dan merubah kedua kakinya pada shalat Maghrib dan shalat Shubuh-,

” لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “

“Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu, yuhyii wa yumiitu wahuwa ‘ala kulli syai’in qadir” (sepuluh kali).

Maka:

1⃣ Setiap satu kali (bacaan) dicatat untuknya sepuluh kebaikan.
2⃣ Dihapus darinya sepuluh kejelekan.
3⃣ Diangkat untuknya sepuluh derajat.
4⃣ Menjaganya dari segala yang tidak disenangi.
5⃣ Menjaganya dari setan.
6⃣ Tidak ada dosa yang bisa membinasakannya, kecuali syirik.
7⃣ Dan dia menjadi orang yang paling afdal amalannya, kecuali orang yang melebihi dia dengan membaca yang lebih afdal dari yang dia baca.” HR. Ahmad, dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Syaikh Nashir dalam Shahih At-Targhiib (478) dan oleh Muhaqqiq Musnad (XXIX/512)

PEMBAHASAN SEPUTAR HADITS

I. Zikir yang tersebut di atas datang dalam beberapa riwayat. Ada yang :

1 – Mempersyaratkan kondisi duduk tetap seperti tahiyat akhir. Seperti pada riwayat ini (Ahmad no. 17990) dan juga yang terdapat dalam Al-Jaami’ oleh At-Tirmidzi (3474)

2 – Tidak menyebutkan kaifiyah tetap dengan posisi tahiyat. Namun fadhilah-nya sedikit berbeda dengan yang disebutkan dalam riwayat ini. Yang itu tertera pada riwayat An-Nasaa’i dalam Al Kubra, Ibnu Hibban dalam Ash-Shahiih, dan juga ada dalam riwayat Ath-Thabrani. (Baca : Shahiih At-Targhiib, I/321-323)

Namun keseluruhan riwayat tersebut sama dalam hal bilangan dan waktu membacanya, yaitu setelah shalat shubuh dan maghrib.

Sehingga, bagaimanapun posisi duduk yang dilakukan seseorang ketika membacanya; dia tetap akan mendapatkan keutamaan yang tersebut dalam riwayat-riwayat yang ada sesuai dengan keadaannya.

Namun jika hendak memperoleh fadhilah yang ada dalam hadits di atas secara khusus; seyogyanya dia bertahan sejenak -dan bacaan ini tidaklah memakan waktu lama- untuk menyelesaikan membacanya sebanyak sepuluh kali dengan posisi duduk tahiyat.

II. Ingin Melakukannya tapi Kesulitan

Bila seseorang tidak mampu, semisal karena kakinya sakit atau tidak kuat lama dalam posisi duduk tahiyat ataukah sebab lainnya; maka insyaallah keutamaan yang terdapat dalam hadits ini tetap ia peroleh. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

من نوى الخير وعمل منه مقدوره ، وعجز عن إكماله : كان له أجر عامل

“Siapa yang telah berniat mengerjakan kebaikan dan dia sudah lakukan sebagiannya sesuai batas kemampuannya, namun tidak bisa menyempurnakannya; maka dia tetap mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya secara sempurna.” (Majmu’ Al Fataawaa, XXII/243)

III. Kapan Membaca Zikir Ini?

Yang pasti, awal kali yang dibaca tiap selesai shalat ialah istighfar (Astagfirullah) tiga kali dan (Allaahumma antas Salaam wa minkas Salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal Ikroom) -HR. Muslim (591)

Adapun zikir-zikir lainnya setelah shalat; maka tidak diketahui ada dalil tegas yang menyebutkan urutannya. Berkata Al ‘Allaamah Al ‘Utsaimiin rahimahullah :

والترتيب بعد الاستغفار، وقوله: «اللهم أنت السلام، ومنك السلام» لا أعلم فيه سنة، فإذا قدم شيئا على شيء فلا حرج. والمهم أن يحرص الإنسان على ما ورد عن النبي عليه الصلاة والسلام في هذا الباب

“Sedang urutan setelah istighfar dan Allaahumma antas Salaam wa minkas Salaam …;aku tidak mengetahui ada keterangan tegasnya di dalam sunnah. Sehingga jika dia mendahulukan salah satu zikir atas zikir lainnya; maka tidak masalah. Yang terpenting hendaknya seseorang antusias untuk mengamalkan zikir-zikir setelah shalat yang bersumber dari Nabi Muhammad ﷺ.” (Asy-Syarh Al Mumti’, III/222 melalui Nataajul Fikr)

Terpahamilah dari sini, bahwa zikir dalam bahasan kita ini bisa dibaca langsung setelah istighfar dan allaahumma antas Salaam dan boleh juga setelah zikir lainnya.

IV. Lafazh Zikir dalam Riwayat-riwayat Hadits

Pada riwayat utama kita di atas, terdapat lafazh (.. yuhyii wa yumiitu ..) . Sedang dalam riwayat lain yang dinilai hasan shahih oleh Syaikh Nashir dalam Shahiih At-Targhiib (474) tanpa lafazh (.. yuhyii wa yumiitu ..). Dan keduanya ialah riwayat yang tsabit sehingga bisa untuk diamalkan.

V. Bila Statusnya Sebagai Imam

Apabila dia berlaku sebagai Imam; dia tetap langsung merubah posisi menghadap ke arah ma’mum setelah istighfar dan allaahumma antas Salaam… Sebab telah shahih perbuatan itu dilakukan oleh Nabi ﷺ, berasal dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam Shahih Muslim (592) [Baca : Ithaaful Muslim, hlm. 460 oleh Syaikh Sa’iid Al Qahthani]

VI. Akankah semuanya mendapatkan pahala sempurna dari hadits di atas?

Pahala sempurna hanya akan didapat oleh seorang yang melafazhkan zikir tersebut dengan dibarengi hadirnya hati. Berkata Imam Nawawi rahimahullah :

Maksud utama zikir ialah hadirnya hati (dalam mengingat Allah). Jadi selayaknya bagi seorang yang berzikir untuk menjadikan itu sebagai tujuan dan bersemangat untuk bisa mencapainya. Berusaha memahami dan memikirkan kandungan zikir yang dibacanya.” (Al Adzkar, I/40 melalui Nataajul Fikr)

Wallahu waliyyut taufiiq, mudah-mudahan kita diringankan untuk mengerjakannya.

— Masjid Abu Hurairah, @Kota Raja

— Hari Ahadi, Dhuha 20 Syawal 1439 / 04 Juli 2018

 

 

Powered by WPeMatico