Satu Pelajaran Hidup Dari Kisah Abu Zur’ah Ar-razi - Salafy Media
Salafy Media

Radio Islam Indonesia

Who's Online


14 visitors online now
2 guests, 12 bots, 0 members
Map of Visitors

Satu Pelajaran Hidup Dari Kisah Abu Zur’ah Ar-razi

salafymediasalafymedia

Ubaidullah bin Abdil Karim, lebih dikenal dengan Abu Zur’ah Ar-Razi rahimahullah. Seorang ulama ahli hadits yang Allah berikan keistimewaan besar dalam bidang ini. Cukup kita melihat, bagaimana sikap Imam Ahmad bin Hanbal terhadap beliau yang mewakili tentang gambaran kedalaman ilmu Abu Zur’ah.

اعتضت بمذاكرته عن نوافلي

“Aku meninggalkan amalan-amalan sunnah rutinku demi melakukan mudzakarah hadits bersama Abu Zur’ah.” (Taarikh Baghdad, X/237 dan Musnad Ibn Ja’d, I/133)

Belum cukup? Simak pernyataan Ishaq bin Rahawaih rahimahullah berikut ini :

كل حديث لا يعرفه أبو زرعة الرازي ، فليس له أصل

“Semua hadits yang tidak diketahui oleh Abu Zur’ah; maka hadits itu tidak memiliki asal (pasti bermasalah, pent).” (As-Siyar, XIII/71)

Ibn Abi Syaibah rahimahullah pernah pula menyatakan :

ما رأيت أحفظ من أبي زرعة الرازي

“Aku tidak mengetahui ada orang yang lebih hafal terhadap hadits melebihi Abu Zur’ah.” (As-Siyar, XIII/70)

Dari rekam jejak kehidupan beliau kita bisa melihat; bahwa Abu Zur’ah menghimpun antara ilmu dan amal. Tidak sebatas mengetahui tentang banyak hal; tapi beliau juga selalu mengiringi ilmunya dengan amalan. Ini sisi pejalaran yang harus kita ambil.

Bukti terkuat akan hal itu ialah saat Allah memberikan pada Abu Zur’ah husnul khatimah. Dikisahkan oleh Abu Ja’far At-Tustari :

“Kami menjenguk Abu Zur’ah pada saat puncak sakit yang beliau alami. Saat itu ada Abu Hatim, Muhammad bin Muslim, Al Mundzir bin Syadzan, dan sejumlah ulama lainnya.

Mereka pun membicarakan tentang hadits ‘Talqinkanlah orang yang akan meninggal dengan laa ilaaha illallaah.’.

Namun, tak seorang pun yang berani melakukannya karena merasa segan pada Abu Zur’ah.

Salah satu di antara pembesuk mengatakan, ‘Kita ingatkan saja beliau dengan haditsnya.’ Maka mulailah mereka menyebut jalur sanad hadits tersebut.

Muhammad bin Muslim mengawali, _telah menyampaikan hadits pada kami Ad-Dhahhak bin Makhlad, dari Abdul Hamiid bin Ja’far, dari Shalih. Lantas Muhammad bin Muslim mengalihkan pembicaraan dan tidak melanjutkan sanadnya.

Kemudian Abu Hatim, beliau mengatakan telah menyampaikan hadits pada kami Bundar, telah menyampaikan hadits pada kami Abu Ashim, dari Abdul Hamiid bin Ja’far, dari Shalih bin Abi ‘Ariib.. Abu Hatim pun berhenti.

Yang lain hanya diam.

Menyaksikan itu, Abu Zur’ah rahimahullah -dalam keadaan nafas beliau sudah berat- mengatakan, telah menyampaikan hadits pada kami Bundar, telah menyampaikan hadits pada kami Abu Ashim, telah menyampaikan hadits pada kami Abdul Hamiid bin Ja’far, dari Shalih bin Abi ‘Ariib, dan Katsiir bin Murroh Al Hadhrami, dari Mu’adz bin Jabal beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda :

من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة

“Siapa yang akhir ucapannya laa ilaaha illallaah maka ia pasti masuk surga.”

Tepat sesaat setelah beliau membacakan hadits ini, Abu Zur’ah, Ubaidullah bin Abdil Kariim rahimahullah menghembuskan nafas terakhirnya.” (Taarikh Baghdad, I/335)

Allahu akbar. Tidak ada lagi yang bisa kita komentari dari kisah ini. Namun, masih terselip kekhawatiran pada diri bila melihat sikap saat sendiri yang kadang, bila enggan dikatakan sering, menyelisihi aturan syar’i. Akankah akhir hidup nanti bisa khusnul khatimah? Atau tidak?! Hanya kepada Allah saja kita meminta agar diberikan hidup dan penutup yang baik.

— Jalur Masjid Agung, @Kota Raja

— Hari Ahadi, 16 Syawal 1439 / 30 Juni 2018

Powered by WPeMatico