Potong atau Biarkan? - Salafy Media
Salafy Media

Radio Islam Indonesia

Who's Online


16 visitors online now
6 guests, 10 bots, 0 members
Map of Visitors

Potong atau Biarkan?

salafymediasalafymedia

Jangan salah fokus pada gambar, itu hanya ilustrasi; karena sekarang kita bukan sedang ingin membahas tentang pohon, tapi kuku, lebih khusus tentang hukum memanjangkannya.

Memanjangkan kuku memang jadi satu hal biasa bagi sebagian orang, baik pria maupun wanita. Namun tentu, kita sebagai seorang muslim memiliki batasan dan aturan dalam setiap hal. Bukan untuk mempersulit, tapi untuk memperindah dan memperbagus keadaan manusia seutuhnya.

Simak penjelasan dari Al Allamah Ibnu Baaz rahimahullah berikut tentang hukum memanjangkan kuku :

تطويل الأظافر خلاف السنة ، وقد ثبت عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه قال :

“الفطرة خمس: الختان، والاستحداد، وقص الشارب، ونتف الإبط، وقلم الأظفار “.

ولا يجوز أن تترك أكثر من أربعين ليلة؛ لما ثبت عن أنس – رضي الله عنه – قال: ( وقت لنا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في قص الشارب، وقلم الظفر، ونتف الإبط، وحلق العانة: ألا نترك شيئا من ذلك أكثر من أربعين ليلة )، ولأن تطويلها فيه تشبه بالبهائم وبعض الكفرة

Memanjangkan kuku terhitung sebagai perbuatan menyelisihi sunnah. Sebab telah tsabit bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda :

الفطرة خمس: الختان، والاستحداد، وقص الشارب، ونتف الإبط، وقلم الأظفار

“Amalan fitrah ada lima; khitan, mencukur bulu kemaluan, memangkas kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku.”

Dan tidak boleh dibiarkan panjang sampai lebih empat puluh hari. Berdasarkan pada riwayat yang tsabit dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata :

وقت لنا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في قص الشارب، وقلم الظفر، ونتف الإبط، وحلق العانة: ألا نترك شيئا من ذلك أكثر من أربعين ليلة

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tenggat waktu pada kami (kaum muslimin) untuk memotong kumis, kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur rambut kemaluan, agar jangan dibiarkan (tanpa dipotong) melebihi empat puluh hari.” HR. Muslim (258)

Juga karena perbuatan memanjangkan kuku; padanya terdapat unsur menyerupai hewan dan orang-orang kafir. (Fataawa Ibn Baaz, X/50)

Tentu ma’lumat ini penting untuk kita ilmui dan sampaikan pada yang lain bukan?! Sebab jangan sampai kebiasaan nggk bermanfaat ini menghalangi seseorang dari kebaikan.

— Jalur Masjid Agung, @Kota Raja
— Hari Ahadi, pagi 20 Dzulqa’dah 1439 / 02 Agustus 2018

Powered by WPeMatico