Maksa Orang Sakit Makan - Salafy Media
Salafy Media

Radio Islam Indonesia

Who's Online


14 visitors online now
2 guests, 12 bots, 0 members
Map of Visitors

Maksa Orang Sakit Makan

salafymediasalafymedia

Kasih sayang dan rasa kasihan terkadang menggerakkan hati kita untuk memaksa orang yang kita sayangi untuk menuruti kemauan kita. Mulia memang, kita tidak mau pihak yang kita cintai tertimpa suatu kesulitan.

Namun sebenarnya, memaksa orang lain -meskipun menurut kita itu untuk kebaikannya- tidaklah selalu terpuji. Bahkan ada yang dilarang, seperti misal memaksa keluarga kita yang sakit untuk mau makan.

‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhaniy radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadits dari Nabi Muhammad ﷺ, bahwa beliau bersabda :

لا تكرهوا مرضاكم على الطعام، فإن الله تبارك وتعالى يطعمهم و يسقيهم

“Janganlah kalian memaksa orang yang sakit untuk makan! Karena sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala lah yang memberi mereka makan dan minum.” HR. at-Tirmidzi no. 2040, dan dinilai hasan oleh al-Imam Muhammad Nashir rahimahullah dalam ash-Shahiihah

Hadits ini secara gamblang melarang kita untuk memaksa orang sakit untuk makan. Sedang makna “Karena sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala lah yang memberi mereka makan dan minum” ialah : Allah ta’ala yang menjaga kekuatan mereka. Demikian penjelasan dari Al Qadhi rahimahullah sebagaimana dinukil oleh al-Mubaarakfuuri dalam tuhfah al-Ahwadzi.

Lalu Imam al-Mubaarakfuuri rahimahullah memberikan keterangan yang teramat bagus sebagai pemupus kekhawatiran kita yang mungkin berpikir “Kalau orang sakit tidak makan, gimana mau sembuh??” Beliau menyatakan :

فإن الحياة و القوة من الله حقيقة. لا من الطعام و لا من الشراب و لا من جهة الصحة

“Sesungguhnya kehidupan dan kekuatan yang hakiki datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Bukan dari makanan, minuman, maupun karena kesehatan.” (at-Tuhfah, VI/193)

Dan sebuah rahasia tersembunyi dari larangan ini, ialah yang disebutkan oleh para dokter bahwa di saat sakit; tubuh sedang berusaha melakukan perlawanan terhadap sumber penyakit. Karena itulah keinginannya terhadap makanan teralihkan dengan kegiatan tersebut. Sehingga tidak tepat memaksa makanan masuk dalam kondisi demikian. (baca : Syarh Ibnu Majah oleh As-Suyuthi I/246 dan Zaadul Ma’ad, IV/83)

— Tenis Lapangan, @Kota Raja

— Hari Ahadi, menjelang kajian, 06 Al Muharram 1438 / 07 Oktober 2016

Powered by WPeMatico