Jangan Rusak Jalan Itu - Salafy Media
Salafy Media

Radio Islam Indonesia

Who's Online


16 visitors online now
6 guests, 10 bots, 0 members
Map of Visitors

Jangan Rusak Jalan Itu

salafymediasalafymedia

Telah banyak yang tahu bahwa mendalami ilmu agama merupakan jalan menuju surga. Sampai-sampai Rasulullah ﷺ membahasakannya dengan :

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا ؛ سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yang mengerahkan sebuah upaya untuk menuntut ilmu; niscaya Allah akan mudahkan jalannya menuju surga.” HR. Muslim (2699)

Lantas siapa yang bisa mencegah bila Allah sendiri yang telah memudahkan?!

Namun layak direnungkan, bahwa menuntut ilmu agama itu memiliki adab, aturan, dan tatakrama agar seseorang bisa mendapatkannya kemudian bisa diterapkan dalam hidup. Tanpa adab, jalannya untuk menerapkan ilmu akan menjadi sulit. Jadi jangan sampai jalan mudah ke surga ini kita rusak disebabkan abai terhadap adab-adabnya.

Dan di antara kunci adab thalabul ‘ilmi yang penting untuk kita terapkan ialah :

FOKUS DALAM MENDENGARKAN ILMU & MENJAUHKAN SEMUA HAL YANG MERUSAK KONSENTRASI MENYIMAK

Berkata Al ‘Allamah Al ‘Utsaimiin rahimahullah :

من حلية الطالب ؛ أن يكون له همة وقوة في الاستماع إلى الشيخ واتباع نطقه

“Di antara perhiasan penuntut ilmu ialah memiliki semangat, kekuatan, dan kesungguhan dalam memperhatikan kajian ilmu yang disampaikan ustadznya.” (Syarh Al Hilyah, hlm. 130)

Asy-Syaikh Muhammad bin Sa’id bin Ruslan hafizhahullah menyatakan secara tegas :

فلا ينال العلم إلا بإلقاء السمع مع التواضع

“Ilmu agama tidak akan bisa diraih kecuali dengan memfokuskan pendengaran (terhadap kajian) dengan disertai sikap rendah hati.” (Adabu Thalib Al ‘Ilmi, hlm. 143)

Lantas bagaimana seseorang ingin mendapatkan ilmu bila saat kajian dia sibuk dengan medsosnya! Sibuk dengan chat-nya! Asyik dengan obrolannya dengan teman! Wallahu Musta’an, hanya pada Allah kita mengadu.

FAKTOR KEBERHASILAN SALAF DALAM ILMU & AMAL SHALIH

Banyak sebab yang melatarbelakangi kesuksesan salaf salam banyak bidang kebaikan, salah satunya ialah memuliakan guru. Sehingga Allah memberikan kepadanya berkah ilmu sang guru. Asy-Syaikh Muhammad bin Sa’id bin Ruslan hafizhahullah mengatakan :

“Kaum salaf dahulu merupakan kaum yang sangat mengagungkan orang yang mengajari mereka ilmu. Dan itu terlihat jelas bila kita menyimak riwayat mereka ketika berada di majelis dan penghormatan mereka pada gurunya.

Al Khathib banyak membawakan riwayat-riwayat itu, (di antaranya) beliau membawakan dengan sanadnya dari Mughirah ia berkata :

كنا نهاب إبراهيم النخعي كما يهاب الأمير

“Kami merasa sangat segan terhadap (guru kami) Ibrahim An-Nakha’i sebagaimana segannya seseorang pada seorang pemimpin.” (Idem, hlm. 144)

Allahu akbar. Sedemikian besar segan dan sopannya mereka saat belajar pada seorang guru. Kira-kira adakah di antara kita yang berani berbincang-bincang sendiri dengan kawan duduk pada saat pertemuan khusus di hadapan seorang gubernur?! Yang masih memiliki rasa malu tentu tidak akan mau melakukannya. Maka demikianlah salaf bersikap terhadap guru mereka.

Imam Syafi’i rahimahullah pun tidak kalah dalam bab penghormatan pada guru, beliau pernah mengatakan :

كنت أصفح الورقة بين يدي مالك رحمه الله صفحا رقيقا هيبة له لئلا يسمع وقعها

“Apabila aku membuka buku saat ada Imam Malik; maka aku melakukannya dengan sangat perlahan karena rasa seganku pada beliau jangan sampai beliau mendengarnya (kemudian merasa terganggu).” (Al Majmu’ dinukil melalui Adabuth Thalib, hlm. 147)

Berkata Thawus rahimahullah :

من السنة أن يوقر العالم

“Termasuk dalam sunnah ialah memuliakan seorang yang berilmu.” (Jaami’ Bayaan Al ‘Ilmi wa Fadhlihi, hlm. 171)

POTRET ULAMA SAAT MENDENGARKAN ILMU

Ilmu agama memang mulia. Dan tidak ada yang memuliakannya selain orang-orang yang mulia pula. Ambillah satu permisalan, seorang tabi’in mulia yang bernama Atha’ bin Abi Rabah. Salah satu ulama terdepan di masa tabi’in dan sekaligus seorang ahli ibadah. Beliau rahimahullah pernah berkisah :

إني لأسمع الحديث من الرجل وأنا أعلم به منه ، فأريه من نفسي أني لا أحسن منه شيئا

“Sungguh, aku mendengarkan sebuah hadits dari seseorang dalam keadaan aku lebih mengerti tentang seluk beluk hadits itu dari pada dia. Namun kutampakkan di depannya seakan tidak mengetahui apapun seputar hadits tersebut.” (Tadzkirah As-Saami’ wa Al Mutakallim, hlm. 107)

Beliau juga menuturkan :

إن الشاب ليتحدث بحديث فأستمع له كأني لم أسمعه ، ولقد سمعته قبل أن يولد

“Ada seorang pemuda yang membacakan satu hadits kepadaku. Aku pun mendengarkan secara seksama seakan belum pernah mendengarnya. Padahal hadits tersebut telah kuketahui sebelum dia lahir.” (Idem, hlm. 107)

KERAHKAN USAHA

Berkata Imam Badrudin Ibnu Jama’ah Al Kinani Asy-Syafi’i rahimahullah :

وينبغي أن لا يقصر في الإصغاء والتفهم، أو يشغل ذهنه بفكر أو حديث

“Sepantasnya bagi seorang penuntut ilmu untuk maksimal dalam mendengarkan ilmu dan mengerahkan usaha untuk memahaminya. Jangan dia menyibukkan fikirannya dengan memikirkan yang tidak-tidak atau dengan mengobrol.” (Idem, hlm. 108)

SESAAT SAJA SOBAT

Satu hal yang menyebar di kalangan salaf bahwa :

“Siapa yang enggan bersabar menanggung kehinaan dalam menuntut ilmu niscaya dia akan hidup dalam gelapnya kebodohan sepanjang umurnya. Dan siapa yang rela menahannya; niscaya kesudahan urusannya ialah bahagia di dunia dan akhirat.” (Adabuth Thalib, hlm. 150)

Senandung Imam Syafi’i :

“Siapa yang tak pernah merasakan kepahitan belajar sesaat pun

Maka dia akan menelan hinanya kejahilan sepanjang masa

Dan Siapa yang melewatkan kesempatan ta’lim di masa mudanya

Bertakbirlah empat kali karena sejatinya ia telah mati.” (Diwan Asy-Syafi’i, hlm. 60)

— Jalur Masjid Agung, @Kota Raja

— Hari Ahadi, dini hari 04 Dzulqa’dah 1439 / 17 Juli 2018

Powered by WPeMatico