Fikih Mudah Bab Miyah (Air) - Salafy Media
Salafy Media

Radio Islam Indonesia

Who's Online


16 visitors online now
6 guests, 10 bots, 0 members
Map of Visitors

Fikih Mudah Bab Miyah (Air)

salafymediasalafymedia

Air merupakan alat utama yang digunakan oleh tiap muslim untuk bersuci. Karena bersuci merupakan sebuah amal yang tidak bisa lepas dari ibadah shalat jadilah perhatian terhadap pembahasan air menjadi hal sangat penting untuk dipelajari tapi.

Untuk kita yang telah berada dalam kawasan yang terjangkau air PDAM tentu perkaranya sedikit mudah, tapi kan tentu kita bakal berjumpa dengan keadaan yang mana air yang akan kita gunakan keruh, atau mungkin nampak kotor. Di sinilah terlihat manfaat mempelajari bab ini.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan :

لا يقبل الله صلاة بغير طهور

“Allah tidak menerima shalat yang dikerjakan tanpa bersuci.” HR. Muslim (224)

Maka tentu penting bagi kita untuk tahu, jenis air yang seperti apakah yang boleh digunakan untuk bersuci?

Jawaban atas hal ini:

Air yang boleh digunakan untuk bersuci ialah air yang tetap sebagaimana kondisi awal penciptaannya (meskipun keruh, tapi keruh karena memang asalnya keruh) apakah :

– Air yang diturunkan dari langit seperti : air hujan, tetesan salju, ataukah embun.

– Maupun air yang mengalir di bumi, apakah itu air sungai, air laut, air kolam, air sumur, dan lain-lain.

Berkata Imam Abu Syuja’ rahimahullah :

المياه التي يجوز التطهير بها سبع مياه: ماء السماء, وماء البحر, وماء النهر, وماء البئر, وماء العين, وماء الثلج, وماء البر

“Air yang bisa dipergunakan untuk bersuci ada tujuh : air hujan, air laut, air sungai, air sumur, mata air, lelehan salju, dan embun.” (Al Ghayah wa At-Taqrib, 3)

“Untuk meringkas hal di atas, bisa pula diungkapkan dengan : Semua air yang berasal dari bumi ataukah yang turun dari langit bisa digunakan untuk bersuci.” (At-Tadzhiib, 10)

Di antara dalil yang menunjukkan poin ini ialah :

– Firman Allah ta’ala :

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ

“dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu.” (QS. Al Anfaal : 11)

– Jawaban Nabi Muhammad ketika beliau ditanya tentang hukum bersuci menggunakan air laut :

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Air laut itu suci dan bisa dipakai untuk bersuci, serta bangkainya pun halal.” HR. Ash-habus Sunan dan yang lainnya. Berkata At-Tirmidzi : Hadits ini hasan shahih.

Sehingga dari yang kita sebutkan di atas, air yang tidak boleh dipakai untuk bersuci itu terbatas pada :

– Air yang keluar dari penamaan “air mutlak”. Seperti air yang dicampur dengan susu, ini bukan lagi disebut “air”. Tapi disebut susu, sehingga ia tidak bisa digunakan untuk bersuci.

– Air yang telah tercampuri oleh najis, hingga najis tersebut merubah salah satu dari karakteristik utama air yang jumlahnya ada tiga, yaitu :

1. Warnanya
2. Rasanya
3. Aromanya

Misal : Air yang ditampung pada suatu wadah dan kejatuhan sesuatu yang najis, maka kita lihat bagaimana keberadaan air tadi, apabila tiga karakteristik utama air tidak terubah oleh najis yang ada, maka air itu tetap suci dan bisa digunakan untuk bersuci.

Namun apabila berubah salah satu dari tiga karakteristik utama air tadi, taruhlah aroma air berubah menjadi seperti aroma najis maka air tersebut pun hukumnya ialah najis serta tidak lagi bisa dipakai untuk bersuci. Dan hal ini merupakan kesepakatan ulama, lihat : Al Aushath, I/260.

Demikian secara ringkas penjabaran terkait masalah air.

Wallahu a’lam.

— Mushalla Fastabiqul Khairat, @Kota Raja
— Hari Ahadi, pas gerimis behambatan, 26 Syawal 1437 / 31 Juli 2016

Powered by WPeMatico