Enam Pembahasan Seputar Puasa Enam - Salafy Media
Salafy Media

Radio Islam Indonesia

Who's Online


16 visitors online now
6 guests, 10 bots, 0 members
Map of Visitors

Enam Pembahasan Seputar Puasa Enam

salafymediasalafymedia

Bagi seorang muslim, perputaran waktu berarti momen pergantian dari satu ibadah pada ibadah lain. Tak terkecuali dengan berakhirnya ramadhan dan masuknya syawal, mereka pun kembali bersiap dengan beragam amal shalih yang ada di bulan syawal.

Baik amal shalih umum yang dilakukan sepanjang tahun seperti shalat lima waktu, tilawatul qur’an, menghadiri pengajian, dll. Maupun yang sifatnya khusus di bulan syawal, seperti puasa enam.

#1 F a d h i l a h  p u a s a  e n a m

Dengan menjalankan puasa enam setelah berpuasa sebulan penuh di bulan ramadhan, seseorang akan mendapatkan pahala berpuasa setahun penuh. Dalam haditsnya, Rasulullah ﷺ bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتّاً مِنْ شَوَّال كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa saja yang telah menjalankan puasa ramadhan, lalu dia susulkan dengan berpuasa enam hari pada bulan syawal, maka seolah dia telah berpuasa setahun penuh lamanya.” HR. Muslim

#2 M e n g a p a  d a p a t  p a h a l a  p u a s a  s e t a h u n  p e n u h ?

Alasannya, karena Allah melipatgandakan satu kebaikan menjadi sepuluh kali lipat. Satu hari berpuasa sama dengan sepuluh hari berpuasa, tiga hari berpuasa sama dengan tiga puluh hari (satu bulan). Maka tiga puluh enam hari = tiga ratus enam puluh hari (setahun).

Mari kita perhatikan gambaran yang diberikan Rasulullah ﷺ berikut ini :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ، فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ

“Siapa yang berpuasa ramadhan; maka terhitung berpuasa sepuluh bulan. Dan puasa enam hari di bulan syawal menyempurnakan jadi puasa setahun penuh.” HR. Ahmad dengan lafazh ini, diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dan ad-Darimi, dinilai shahiih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashir

#3 K a p a n  m u l a i  b o l e h  p u a s a  e n a m ?

Puasa enam boleh dilakukan di sepanjang bulan syawal, dari tanggal dua hingga akhir. Dan tidak ada keharusan untuk langsung berpuasa setelah hari raya (dua syawal). Dalam fatwa Lajnah (X/391) disebutkan :

لا يلزمه أن يصومها بعد عيد الفطر مباشرة، بل يجوز أن يبدأ صومها بعد العيد بيوم أو أيام

“Tidak ada keharusan untuk puasa enam langsung setelah idul fitri. Bahkan diperbolehkan melakukannya selang sehari atau beberapa hari setelah id.”

4 B a g u s k a h  b e r s e g e r a  d a r i  t a n g g a l  d u a  S y a w a l?

– Dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

وكره بعضهم صوم الست من شوال عقب العيد مباشرة؛ لئلا يكون فطر يوم الثامن كأنه العيد، فينشأ عن ذلك أن يعده عوام الناس عيدا آخر

“Sejumlah ulama memakruhkan pelaksanaan puasa enam langsung setelah hari raya (baca : 2 Syawal); agar jangan sampai ketika puasa enam usai lantas dianggap (tanggal delapan) ada hari raya lagi. Yang kemudian dikira oleh orang awam sebagai hari raya lain.” (Mukhtashar Al Fataawaa Al Mishriyyah, hlm. 290)

Yang disebut oleh Syaikhul Islam di atas, ialah hari raya ketupat dalam istilah masyarakat kita. Dikenal dengan ‘idul abrar, para ulama mengingkari hari raya jenis ini karena termasuk dalam hal yang baru dalam agama.

Atas dasar ini, sejumlah ulama menilainya makruh. Alasan lain, awal-awal hari raya masih bagian dari waktu bersenang-senang. Karena itulah, saat Imam Ma’mar bin Rasyid Al ‘Azdi ditanya oleh ‘Abdurrazaq Ash-Shan’ani tentang puasa sehari setelah hari raya ‘idul fithri, beliau menyatakan :

معاذ الله إنما هي أيام عيد وأكل وشرب

“Aku berlindung pada Allah dari melakukannya! Sesungguhnya awal-awal hari raya masih waktu ‘id, makan-makan, dan minum.” (Al Mushannaf, 7922)

– Namun ulama lain berpendapat, bahwa baik bila dia segerakan. Masuk dalam bab bersegera dalam kebaikan.

Sehingga seseorang tinggal melihat, mana yang lebih mudah dan bermaslahat bagi dirinya. wabillaahi at-taufiiq.

#5 H a r u s  b e r t u r u t – t u r u t k a h ?

Tidak. Berkata Imam Nawawi rahimahullah (al-Majmu’, VI/427) :

“Berkata ulama Syafi’iyah, ‘Disunnahkan untuk puasa enam secara berturut-turut pada awal-awal bulan syawal, namun seandainya dia pisah-pisah dan dilakukan pada akhir syawal ini pun boleh.”

#6 M E S T I  Q A D H A’  R A M A D H A N  D U L U ?

Ada dua pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini. Dan nampaknya, keterangan Al ‘Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah berikut bisa menjadi penjelas yang menenangkan hati kita.

إن كان يستطيع أن يقضي الأيام التي أفطرها في رمضان ثم يصوم الست فهذا أمرٌ حسن ، وإن كان لا يستطيع أن يصوم هذا وهذا فيجوز له أن يصوم الست

لماذا قلنا هذا ؟ لأن وقت القضاء موسع ، بخلاف صوم الست فليس لها محل إلا في شوال

أما وقت القضاء فقد جاء عن عائشة رضي الله تعالى عنها أنها قالت : ما كنت أقضي إلا في شعبان ، أي لأنها تشغل برسول الله – صلى الله عليه وعلى آله وسلم

“Bila seseorang mampu men-qadha puasa ramadhan yang dia tinggalkan lebih dulu baru setelah itu melaksanakan puasa enam; maka tentu ini hal yang baik.

Namun bila dia tidak mampu; maka boleh baginya untuk melaksanakan puasa enam lebih dulu. Mengapa demikian? Karena waktu qadha’ puasa bersifat luas. Berbeda dengan puasa enam yang waktunya hanya pada bulan syawal.

Terkait waktu qadha’ yang panjang, ditunjukkan dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menyatakan :

“Tidaklah aku men-qadha’ puasa melainkan di bulan Sya’ban.”

Ini terjadi, lantaran kesibukan beliau melayani Rasulullah ﷺ.” (Transkrip dari As-ilah minal Maharoh, rek suara beliau bisa didengarkan di sini : http://muqbel.net/files/fatwa/muqbel-fatwa2278.mp3)

— Parak Rondong Demang, @Kota Raja

— Hari Ahadi, 05 Syawal 1438 (selesai direvisi dan tambahan sejumlah pembahasan 02 Syawal 1439 / 16 Juni 2018)

Powered by WPeMatico