Berkenalan Dengan I’tikaf - Salafy Media
Salafy Media

Radio Islam Indonesia

Who's Online


15 visitors online now
2 guests, 13 bots, 0 members
Map of Visitors

Berkenalan Dengan I’tikaf

salafymediasalafymedia

Ibadah i’tikaf bermakna berdiam di masjid dalam rangka memfokuskan diri dalam amal ketaatan. Tujuannya, agar seseorang bisa menghimpun hatinya secara keseluruhan hanya untuk Allah dan memutuskan diri dari mengurusi kegiatan keduniaan dan makhluk, demikian penjelasan Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah (Az Zaad, II/87).

Hukum dan Anjuran Ber-i’tikaf

Hukum i’tikaf ialah sunnah, bagi muslim maupun muslimah. Dikatakan oleh Imam Ibnu Syihab az-Zuhri rahimahullah :

عجبا من الناس كيف تركوا الاعتكاف، ورسول الله ﷺ كان يفعل الشيء ويتركه، وما ترك الاعتكاف حتى قبض

“Sungguh aneh orang-orang! Kenapa mereka rela meninggalkan amalan i’tikaf?! Sedang Rasulullah ﷺ, bila melakukan amalan sunnah di satu waktu terkadang beliau meninggalkannya; sedangkan i’tikaf, tidak pernah sekalipun beliau tinggalkan hingga beliau wafat.” (Al Mabshuuth, III/114 & ‘Umdatul Qaari, XII/140)

Dan lebih ditekankan pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Dinyatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah :

ويتأكد استحبابه في العشر الأواخر من شهر رمضان طلبا لليلة القدر

“I’tikaf semakin dianjurkan saat memasuki sepuluh hari terakhir bulan ramadhan, dalam rangka mengejar keutamaan lailatul qadar.” (Al Majmu’, VI/501)

Tempat I’tikaf

I’tikaf harus dilaksanakan di masjid, baik yang ada Jum’atan-nya atau tidak (masjid yang tidak ada Jum’atan-nya dalam istilah masyarakat kita dikenal dengan Langgar atau Mushalla). Dikatakan oleh Al Qurthubi rahimahullah :

“Ulama sepakat bahwa i’tikaf harus dilaksanakan di masjid.” (Ahkaam Al Qur’an, II/333)

Syarat I’tikaf bagi Wanita

Dari keterangan sejumlah ulama, seperti Al ‘Allamah Al ‘Utsaimiin rahimahullah maupun selain beliau, tersimpulkan bahwa syarat bolehnya wanita beri’tikaf ada tiga :

1. Mendapatkan izin dari suaminya, bagi yang telah menikah. Atau dari walinya bila ia belum menikah. Sebab i’tikaf dilakukan di masjid yang itu berarti ia harus keluar rumah.

2. Tidak mengakibatkan tugas rumahnya sebagai ibu terlantar. Karena i’tikaf hukumnya sunnah, sedangkan mengurusi rumah bagi seorang wanita yang telah menikah ialah wajib. Dan yang wajib harus lebih didahulukan dari pada yang sunnah.

3. Di tempat yang terpisah dari laki-laki. Sehingga tertutup potensi fitnah yang dikhawatirkan bisa muncul. (baca : Fataawaa Nuur ‘alad Darb no. 325)

Waktu Minimal Ber-i’tikaf

Tidak ada batas minimal yang harus dilalui bagi seorang yang menjalankan ibadah i’tikaf. Meski itu hanya sejenak, satu jam, dua jam, dst. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan :

“Pendapat yang benar dan telah ditegaskan oleh mayoritas ulama; bahwa yang harus ada dalam i’tikaf ialah dia berdiam diri di masjid, baik waktunya lama atau hanya sebentar, meskipun hanya sesaat.” (Al Majmu’, VI/489)

[ Bahan Bacaan : Zaadul Ma’aad dan Fiqhul I’tikaf ]

–> lanjutan tentang adab I’tikaf.. insyaallah

— Masjid Abu Hurairah, @Kota Raja

— Hari Ahadi, tengah malam 22 Ramadhan 1439 – 07 Juni 2018

Powered by WPeMatico