Awas Dukun!! - Salafy Media
Salafy Media

Radio Islam Indonesia

Who's Online


16 visitors online now
6 guests, 10 bots, 0 members
Map of Visitors

Awas Dukun!!

salafymediasalafymedia

Dalam Islam dikenal istilah al-‘Arraaf, dan umumnya, mereka menjadi salah satu “alternatif” sebagian kalangan dalam mewujudkan tujuan mereka. Apapun itu. Ada yang bertujuan mencari barang yang dicuri, melihat nasib di masa depan, dll.

Dalam istilah kita, al-‘Arraaf dikenal dengan beragam profesi, bisa paranormal, orang pintar, peramal, ahli nujum, dukun, dan istilah-istilah lain. Ciri pastinya, mereka ialah orang-orang yang mengaku tahu perkara gaib.

Berkembang zaman maka praktik perdukunan pun mengalami teknis perkembangan pula, tidak hanya praktik secara langsung; sekarang mereka juga menyediakan jasa online. Dengan beragam macam jenis dan variasi penarik. Semua ini memiliki hukum yang sama dengan perdukunan jadul.

Kurangnya pemahaman terhadap Islam menjadikan banyak umat Islam sendiri yang justru terjatuh dalam pelanggaran-pelanggaran berbahaya yang bahkan menyentuh ranah aqidah ini.

Mendatangi al-‘Arraaf

Ada empat keadaan manusia yang datang ke tempat al-‘Arraaf. Berikut rinciannya :

1. Mendatangi sebatas untuk tanya-tanya saja. Hukumnya haram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من أتى عرافا فسأله عن شيء لم تقبل له صلاة أربعين ليلة

“Barangsiapa yang mendatangi ‘arraaf dan bertanya sesuatu kepadanya; maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.” HR. Muslim, no. 2230

Kandungan Hadits :

– Ancaman keras dari Rasulullah terhadap orang yang mendatangi dan menanyakan sesuatu kepada ‘arraaf.

– Sebatas seseorang datang lalu bertanya saja, maka shalat yang ia kerjakan selama empat puluh hari tidak akan diterima.

– Haramnya perbuatan di atas. Kalaulah boleh-boleh saja datang dan bertanya kepada para dukun tersebut; tidak mungkin Rasulullah ﷺ memberikan ancaman sekeras ini.

Faidah

Hukum shalat tetap wajib bagi orang yang telah mendatangi al-‘Arraaf namun tidak membenarkannya. Apabila dia malah meninggalkan shalat dengan alasan “Toh tidak terima juga shalatku”, maka dosa yang dia tanggung akan semakin besar dan kian berlipat ganda.

2. Bertanya plus meyakini yang disampaikan oleh si dukun. Ini adalah perbuatan kekafiran. Nabi Muhammad ﷺ bersabda :

من أتى عرافا أو كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد ﷺ

“Siapa saja yang datang kepada paranormal maupun dukun lalu berkeyakinan akan benarnya ucapan mereka; maka sungguh dia telah kafir terhadap alquran yang telah pada Muhammad ﷺ.” HR. Ahmad, dinilai shahih oleh al-Hafizh al-‘Iraqi sebagaimana dinukil oleh asy-Syaikh Sulaiman Aalu asy-Syaikh

Kandungan Hadits :

– Hukum kafir oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada kaum yang datang dan mempercayai ucapan, ramalan, atau kah kabar-kabar yang disampaikan oleh para dukun.

3. Bertanya sebatas dalam rangka mau tahu, apakah ‘arraaf ini dusta atau tidak. Tidak bertujuan sama sekali untuk mempercayai ucapan si ‘arraaf. Hukumnya boleh. Karena tidak masuk dalam larangan dalam hadits-hadits di atas. (Lihat riwayat al-Bukhari no. 3055 dan Muslim no. 2924 terkait keadaan ketiga ini)

4. Mendatangi dan bertanya pada ‘arraf dengan tujuan membongkar kedok dan menyingkap tipu dayanya. Ini adalah hal yang dituntut, bahkan boleh jadi wajib.

Namun menyedihkannya, mayoritas saudara kita yang mendatangi dukun, orang pintar, dan apapun namanya ialah dengan tujuan pertama dan kedua. Semoga Allah memberikan hidayah pada kita dan mereka semua.

Perkara Gaib Hanya Allah yang Tahu

– Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (QS. al-An’aam : 59)

– Dia juga berfirman :

{قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ} [النمل : 65]

“Katakanlah, ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. an-Naml : 65)

Pelajaran Dua Ayat di Atas :

– Ilmu gaib hanya Allah saja yang tahu. Tidak ada yang bisa tahu sesuatu yang gaib kecuali apabila Allah beritahukan padanya.

– Semua orang yang mengaku tahu hal gaib bisa dipastikan bahwa dia seorang pendusta.

– Tidak boleh meyakini sedikitpun ucapan seorang tukang ramal terkait kejadian masa depan.

Bahkan sekelas Rasul dan manusia paling mulia, Nabi kita Muhammad ﷺ, beliau saja tidak tahu akan hal gaib, lantas bagaimana bisa dipercaya orang yang sangat jauh di bawah kedudukannya dari pada Rasulullah ﷺ saat dia memberitakan masa depan atau hal gaib secara umum. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ

“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan’.” (QS. al-A’raaf : 188)

Wallahu a’lam.. Wabillaahit taufiiq.

Sumber :

– Mu’jam at-Tauhid Juz III
– Kitab at-Tauhid
– Majmu’ Fataawa wa Rasaa’il al-‘Utsaimin

— Jalur Masjid Agung, @Kota Raja

— Hari Ahadi, Jelang Tidur di 22 Rabi’ul Awal 1438 / 20 Desember 2016

Powered by WPeMatico